BeritaJakarta BerketahananKegiatan

Lokakarya Perdana Program Prioritas Jakarta Berketahanan

Dalam menentukan Program Prioritas untuk Strategi Ketahanan Kota (City Resilience Strategy) Jakarta

Jakarta,  26 September 2018

Sekretariat Jakarta Berketahanan telah melaksanakan Lokakarya Perdana Program Prioritas Jakarta Berketahanan sebagai salah satu kegiatan dari rangkaian tahap II Program Jakarta Berketahanan yang bertujuan untuk menyusun Strategi Ketahanan Kota Jakarta.

Sebelum lokakarya ini dilaksanakan, Sekretariat Jakarta Berketahanan telah memulai Tahap II Program Jakarta Berketahanan yang bertujuan untuk menyusun Strategi Ketahanan Kota/City Resilience Strategy dengan melakukan serangkaian kegiatan berupa:

  • Sesi Kerja Tahap II Program Jakarta Berketahanan terkait Status Ketahanan Kota Jakarta (Resilience Statement) pada 23 Agustus 2018.
  • Sesi Kerja Tahap II Program Jakarta Berketahanan terkait Visi Misi Program Prioritas Jakarta Berketahanan pada 19 September 2018.

Keluaran dari rangkaian sesi kerja tersebut menjadi masukan untuk tahapan Pengembangan Strategi Ketahanan Kota Jakarta, khususnya Analisis Kebermanfaatan Nilai Ketahanan (Resilience Impact Assessment) program di DKI Jakarta.

Sebagai tindak lanjut dari kedua Sesi Kerja tersebut, diselenggarakan Lokakarya Perdana Program Prioritas Jakarta Berketahanan pada tanggal 26 September 2018.

Lokakarya ini dilaksanakan dengan penuh antusias dari berbagai pemangku kepentingan. Lokakarya ini dihadiri lebih dari 140 peserta yang terbagi dari unsur dari pemerintah kota, wilayah, dan pusat, pihak swasta, NGO (lokal, nasional, dan internasional), serta akademisi dari berbagai universitas. Lokakarya ini dilakukan sehari penuh untuk menjaring dan menyatukan persepsi berbagai pemangku kepentingan dalam menyusun Program Prioritas – Strategi Ketahanan Kota (City Resilience Strategy).

Lokakarya ini dirangkai dalam 3 (tiga) sesi, yaitu:

  • Pertama penyampaian materi dari Sekretariat Jakarta Berketahanan yang diwakili oleh Dede Herland (Deputi CRO Jakarta Berketahanan).
  • Kedua, sesi pemaparan materi dan diskusi panel dengan narasumber oleh Bapak Oswar M. Mungkasa (Deputi Gubernur Tata Ruang dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta), Lauren Sorkin (Managing Director 100 Resilient Cities Asia Pacific), dan Ibu Tri Dewi Virgiyanti (Direktur Perkotaan, Perumahan dan Permukiman Bappenas) yang juga dimoderatori oleh Bapak Wicaksono Sarosa.
  • Ketiga, diskusi kelompok yang terdiri dari 5 (lima) kelompok sesuai dengan fokus utama.

Setelah sesi pemaparan materi dan diskusi panel, peserta lokakarya akan melakukan sesi kelompok kerja yang akan membagi peserta ke dalam beberapa kelompok yang berdasarkan fokus utama Jakarta Berketahanan berupa:

  1. Meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan dan manajemen kota;
  2. Membangun budaya siap siaga untuk menghadapi berbagai guncangan;
  3. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui tata kelola air bersih, air limbah dan sampah dengan lebih baik;
  4. Meningkatkan mobilitas dan konektivitas warga Jakarta;
  5. Memelihara kohesi sosial warga Jakarta.

Oswar M. Mungkasa (CRO Resilient Jakarta Secretariat) dalam Memberikan Paparan 

Dalam sesi pemaparan materi dan diskusi panel, beberapa hal penting yang menjadi perhatian adalah:

  • Bapak Oswar membahas permasalahan perkotaan secara global yang juga berdampak pada permasalahan di Jakarta, yaitu globalisasi, urbanisasi, dan perubahan iklim. Permasalahan ini dilihat dan dibagi dalam dua hal, yaitu guncangan (shocks) dan tekanan (stresses). Dikerucutkan ke dalam permasalahan di Jakarta dimana Jakarta mengalami guncangan seperti banjir, demonstrasi, kekeringan, wabah penyakit, ketiadaan listrik, dan kegagalan infrastruktur. Sementara itu, Jakarta juga mengalami tekanan seperti penurunan kualitas makanan, peningkatan mobilitas, sistem pengadaan air bersih yang tidak berkelanjutan, degrasi lingkungan, dan kesenjangan sosial. Beliau menekankan kepada para pemangku kepentingan bahwa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, diperlukan pendekatan kolaboratif. Hal ini lah yang diupayakan oleh Sekretariat Jakarta Berketahanan bersama dengan berbagai tingkat dan sektor pemangku kepentingan untuk mewujudkan Kota Jakarta yang berketahanan.

Lauren Sorkin (Managing Director 100 RC Asia-Pacific) sedang Memaparkan Materi dalam Sesi Diskusi Panel 

  • Dilanjutkan oleh paparan dari Lauren Sorkin yang menjelaskan praktik-praktik unggulan dan pembelajaran dari kota anggota 100 Resilient Cities terkait penyusunan dan implementasi strategi ketahanan kota (City Resilience Strategy). Lauren juga menyampaikan maksud dan tujuan dari jejaring 100 Resilient Cities adalah untuk membangun kota yang inklusif dimana dapat mengajak berbagai pemangku kepentingan terutama komunitas rentan bencana bersama-sama menciptakan kota yang berketahanan. Sudah lebih dari 1.7 Triliun US Dollar jejaring ini memberikan sokongan untuk membantu kota-kota anggota jejaring meningkatkan infrastruktur yang tahan terhadap dampak bencana yang merugikan. Selain itu, jejaring ini juga mendukung dan membangun kapasitas masyarakat kota itu sendiri. Salah satu praktik unggul dari jejaring ini adalah Kota Paris yang pernah mengalami guncangan dahsyat, yaitu pemboman atau terorisme. Masyarakat Paris juga memikirkan tentang keberlangsungan lingkungan. Kota Paris sadar akan hal ini dan ingin bukan hanya menyelesaikan hal tersebut, tetapi lebih menekankan kepada nilai-nilai yang dapat menyelaraskan kohesi sosial dan lingkungan yang berkelanjutan. Kemudian, ikhtiar ini diwujudkan dengan implementasi perubahan 700 halaman sekolah menjadi oase lokal atau zona sejuk dengan mengganti aspal dengan vegetasi untuk pendinginan agar terciptanya kesejahteraan di kota. Halaman-halaman sekolah akan menjadi tempat untuk pembelajaran masyarakat serta perlindungan yang aman bagi anggota masyarakat yang rentan akan heat waves. Kota Paris telah saja merubah tiga halaman sekolah dan akan selalu melanjutkannya hingga mencapai target.
  • Panelis selanjutnya oleh Ibu Virgie yang menjelaskan tentang fragmented governance dan urban-rural linkages dalam resilient city. Beliau menjelaskan, terjadinya fragmented governance dikarenakan rendahnya efisiensi pengelolaan internal pemerintah, rendahnya tingkat pemanfaatan sumber daya, dan rendahnya kolaborasi dalam penanganan masalah. Kemudian, beliau juga membahas tentang keterkaitan antarkota dan pedesaan dimana terdapat interaksi yang saling menguntungkan satu sama lain yang disebabkan oleh pergerakkan penduduk, barang, uang, jasa layanan dan informasi. Beliau menuturkan dengan adanya kebijakan urban-rural linkages dapat memberikan dampak kepada perubahan guna lahan, peningkatan pemanfaatan sumber daya alam, dan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Kaitannya urban-rural linkages dengan kota berketahanan (urban resilience) adalah memberikan manfaat berupa peningkatan kapasitas daerah yang juga bersinergi dengan kerangka ketahanan kota (City Resilience Framework), yaitu pada elemen Kepemimpinan dan Strategi.

Dengan berakhirnya sesi pemaparan materi dan diskusi panel dari masing-masing panelis, dengan antusiasnya partisipan melakukan tanya-jawab melalui diskusi panel tersebut.

Setelah sesi pemaparan materi dan diskusi panel, peserta lokakarya akan melakukan sesi kelompok kerja yang akan membagi peserta ke dalam beberapa kelompok yang berdasarkan fokus utama Jakarta Berketahanan berupa:

  1. Meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan dan manajemen kota;
  2. Membangun budaya siap siaga untuk menghadapi berbagai guncangan;
  3. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui tata kelola air bersih, air limbah dan sampah dengan lebih baik;
  4. Meningkatkan mobilitas dan konektivitas warga Jakarta;
  5. Memelihara kohesi sosial warga Jakarta.

Setelah itu, sesi kelompok kerja dilakukan dimana telah dibagi berdasarkan kelompok Fokus Utama. Secara ringkas, hasil atau simpulan sebagai masukan pada masing-masing kelompok, antara lain:

Situasi Diskusi pada Kelompok 1

Kelompok 1 – Fokus utama I (Meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan dan manajemen kota)

Simpulan yang diberikan oleh kelompok 1 adalah:

  1. Perlu adanya pemahaman mengenai konsep ketahanan kota yang dipahami dan dipercayai bersama sebagai basis perencanaan kota
  2. Diperlukan payung hukum sebagai jawaban dalam rangka meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan dan manjemen kota lintas wilayah
  3. Program prioritas harus memiliki manfaat nyata dan dampak langsung bagi masyarakat

Situassi Diskusi pada Kelompok 2

Kelompok 2 – Fokus utama 2 (Membangun budaya siap siaga untuk menghadapi berbagai guncangan)

Kelompok 2 memberikan masukan-masukan berupa;

  1. Dalam membangun sadar budaya bencana masukkan tentang permasalahan dan karakteristik Kepulauan, seperti:
    • Peran BPBD mapping pulau yang aman di kep. seribu
    • Seribu dalam mengembangkan Jaringan kominfotik dengan dinas kominfotik untuk mengantisipasi bencana
  2. Koordinasi dengan Forum Komunikasi Pemerintah daerah (berdasarkan UU no. 24 tahun 2009)
  3. Kolaborasi BPBD, Dinas sosial, DLH, Dinas Kebersihan dalam tupoksi dan perencanaan membangun sadar budaya baik terkait bencana alam, non alam, dan bencana alam.
  4. Advokasi dalam perencanaan program dan anggaran berdasarkan issues tidak hanya berdasarkan tupoksi OPD.

Diskusi yang berlangsung pada Kelompok 3

Kelompok 3 – Fokus utama 3 (Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui tata kelola air bersih, air limbah dan sampah dengan lebih baik)

Kelompok ini menyimpulkan perlu adanya program untuk meningkatkan volunteerism. Selain itu, dalam faktor pendorong ketahanan, perlu adanya pemahaman mengenai sumber daya air dan mendorong efisiensi air bagi yang memiliki akses. Sementara itu pula, perlu adanya program edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya lingkungan. Yang terakhir dan juga terpenting adalah memperkuat fungsi kontrol dalam pemerintah.

 Diskusi yang berlangsung pada Kelompok 4

Kelompok 4 – Fokus utama 4 (Meningkatkan mobilitas dan konektivitas warga Jakarta)

Adapun simpulan dan masukan dari kelompok 4 adalah harus melihat program detail, perlunya penjelasan terkait program-program yang telah dibuat, tingkat keterlibatan masyarakat yang lebih tinggi, mengundang orang-orang yang diundang hari ini dan yang datang dalam sesi dikusi untuk lokakarya berikutnya. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan peluang untuk mewujudkan Jakarta Berketahanan dari sisi Fokus Utama 4.

Situasi Kelompok 5 pada saat Sesi Diskusi Kelompok 

Kelompok 5 – Fokus utama 5 (Memelihara kohesi sosial warga Jakarta)

Ringkasan yang dapat diberikan oleh kelompok 5 adalah:

  1. Diperlukan Fasilitas Sosial untuk di perumahan ataupun komunitas rumah susun sehingga dapat membentuk kohesi sosial
  2. Apartemen dan rumah susun yang saat ini didesain tidak memiliki ruang komunkasi sehingga hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan
  3. Perlu memperhatikan kohesif dari ekonomi tinggi ke rendah terutama di wilayah-wilayah menarik di Jakarta (mulai dari ruang publik atau acara-acara antarkomunitas).

Link paparan narasumber pada lokakarya ini – 26 September 2018:

Paparan Lokakarya CRO-Program Jakarta Berketahanan

20180918 – Roadshow JKT Phase 2 Kick off – INA

180925f Fragmented Gov dan Urban Linkages

Link Prosiding lokakarya ini:

20181011_PROSIDING Lokakarya Perdana Program Prioritas Jakarta Berketahanan_r

https://issuu.com/jakberketahanan/docs/20181011_prosiding_lokakarya_perdan

 

 

 

Show More

Related Articles