BeritaJakarta BerketahananKegiatan

Kunjungan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Agung Podomoro

Diskusi Isu-Isu terkait Kota Berketahanan dari Perspektif Tata Kota

 

Jakarta, 13 September 2018

Tim Sekretariat Jakarta Berketahanan mendampingi Deputi Gubernur Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (TRLH) DKI Jakarta menerima audiensi dari Universitas Agung Podomoro, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan (DCKTRP) DKI Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, dan Mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Agung Podomoro. Audiensi dilakukan dengan maksud untuk mendiskusikan isu-isu terkait kota berketahanan dari perspektif tata kota. Acara ini dibuka oleh Ibu Riana Faiza, Asisten Deputi Gubernur Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (TRLH) DKI Jakarta.

Acara ini dimulai dengan paparan dari DCKTRP DKI Jakarta oleh Bapak Heru, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang. Beliau menjelaskan sejarah Kota Jakarta yang sejak 1961 memang sudah mengalami banjir. Hal ini dikarenakan Wilayah Jakarta dialiri berbagai macam sungai dan juga Jakarta merupakan wilayah berdataran rendah. Sementara, dari perencanaan kota itu sendiri merupakan sebuah pedoman agar perkembangan Kota Jakarta dapat berkelanjutan. Untuk mengukur kota yang berketahanan, dilihat tidak hanya dari fisik kota, namun juga sosial dimana penduduk perkotaan perlu diprioritaskan. Penduduk diharapkan mampu lebih adaptif mengantisipasi guncangan dan tekanan yang sekarang maupun akan datang. Secara garis besar, sebuah kota harus mempertimbangkan 4 (empat) aspek ketahanan kota, yaitu economic, society, governance, dan environment.

Paparan kedua dari Tim Jakarta Berketahanan oleh Bapak Dede Herland (Deputy CRO) menjelaskan perjalanan Sekretariat Jakarta Berketahanan dalam mewujudkan Kota Jakarta yang berketahanan. Pada saat ini, Tim Jakarta Berketahanan memasuki fase 2 yaitu penyusunan Strategi Ketahanan Kota. Beliau menuturkan bahwa Kota Berketahanan/Resilient City adalah kota dengan kapasitas individu, masyarakat, institusi, bisnis, dan sistem dari sebuah kota dapat bertahan, beradaptasi, dan tumbuh terhadap tekanan (stresses) yang terus menerus dan guncangan (shocks) besar yang dihadapi. Selain itu, beliau juga menjelaskan beberapa kualitas yang harus dimiliki atau dihasilkan dari suatu kota yang terdiri dari reflective, flexible, resourceful, inclusive, robust, integrated, dan redundant.

Tambahan yang diberikan dari BPBD DKI Jakarta oleh Bapak Tri Indrawan menjelaskan bahwa terdapat 3 hal penting dalam membangun kota berketahan. Pertama, kota serta masyarakatnya harus memiliki kemampuan ‘antisipasi ancaman’, mengingat setiap ancaman memiliki tingkat eksposur yang berbeda-beda. Kedua, ‘masyarakat siaga’ dimana masyarakat harus memiliki kemampuan beradaptasi. Ketiga, ‘pengetahuan’ yang mana elemen ini menjadi sangat penting untuk masyarakat mampu beradaptasi terhadap buruknya dampak guncangan dan tekanan dalam kota. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup juga menjelaskan bahwa untuk mendukung kota yang berketahanan, Dinas Lingkungan Hidup lebih mengoptimalkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) tehadap perencanaan kota.

Link Materi Paparan:

  • Paparan dari Sekretariat Jakarta Berketahanan;

20180913_Resilient Jakarta+CRF Mapping of Spatial Planning for Podomoro- 13 September

  • Paparan dari Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan DKI Jakarta

Paparan Ketahanan Kota Jakarta DCKTRP 130918

Show More

Related Articles