BeritaJakarta BerketahananKegiatan

Sesi Kerja Tahap II Program Jakarta Berketahanan – Status Ketahanan Kota Jakarta (Resilience Statement)

Memulai Tahap II Program Jakarta Berketahanan dan proses analisis ketahanan kota yang mendasari penyusunan Strategi Ketahanan Kota

Jakarta, 23 Agustus 2018.

Sesi Kerja Tahap II Program Jakarta Berketahanan – Status Ketahanan Kota (Resilience Statement)

Upaya dalam membangun ketahanan kota (city resilience) Jakarta sudah dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan; baik pemerintah dengan berbagai program dan kebijakannya, pihak swasta dan organisasi sosial dengan aneka kegiatannya, hingga para akademisi dengan ragam riset yang dilakukan. Upaya ini mendapatkan momentum baru ketika Jakarta telah terpilih sebagai salah satu dari 37 kota dunia untuk bergabung dalam jejaring internasional 100 Kota Berketahanan/100 Resilient Cities (100RC) pada Mei 2016.

Dukungan 100RC untuk mewujudkan Jakarta menjadi Kota Berketahanan mencakup 3 (tiga) tahapan, yaitu: (i) Tahap I: Penyusunan Penilaian Awal Ketahanan Kota/Preliminary Resilience Assessment (PRA); (ii) Tahap II: Penyusunan Strategi Ketahanan Kota/City Resilience Strategy; dan (iii) Tahap III: Implementasi Strategi Ketahanan Kota/Implementation of City Resilience Strategy. Melalui pengembangan Strategi Ketahanan Kota tersebut, Jakarta akan mampu mewujudkan ketahanan kota dalam menghadapi segala guncangan dan tekanan yang sedang dan/atau akan dialami di masa mendatang.

Proses Kolaborasi untuk Menyusun Strategi Ketahanan Kota

Saat ini, Jakarta sedang melaksanakan Tahap II Program Jakarta Berketahanan yang bertujuan untuk menyusun Strategi Ketahanan Kota/City Resilience Strategy. Proses pelaksanaan Tahap II ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan Strategi Ketahanan Kota yang relevan, komprehensif, dan implementatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan kolaboratif.

Untuk itu, diperlukan sebuah proses analisis ketahanan kota yang mendasari penyusunan Strategi Ketahanan Kota. Analisis ketahanan kota ini akan mendalami 5 (lima) Fokus Utama dan Pertanyaan Analisis yang dihasilkan dari Tahap I Program Jakarta Berketahanan. Oleh karena itu, diselenggarakan Sesi Kerja Status Ketahanan Kota Jakarta (Resilience Statement) pada Tanggal 23 Agustus 2018, di Ruang Rapat II Deputi Gubernur, Balaikota Provinsi DKI Jakarta, Blok G, Lantai 5.

Kegiatan ini dipimpin oleh Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (TRLH) selaku Koordinator Ketahanan Kota/Chief Resilience Officer (CRO) dan dihadiri oleh para pemangku kepentingan yang berasal dari berbagai latar belakang seperti Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Kominfotik, dan Dinas Kehutanan), Organisasi Non-pemerintah (Ruang Waktu dan Sekretariat Jakarta Berketahanan), serta Pihak Swasta (Buro Happold).

Sesi Kerja dilakukan untuk mendalami dan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan tentang tantangan yang dihadapi Kota Jakarta.

Sesi Kerja Status Ketahanan Kota Jakarta (Resilience Statement) bertujuan untuk (i) Meningkatkan pemahaman tentang tantangan yang dihadapi Kota Jakarta; (ii) Mendalami dan mengkonfirmasikan Fokus Utama Ketahanan Kota beserta Pertanyaan Analisisnya; dan (iii) Mengidentifikasi Kriteria Dasar Ketahanan Kota Jakarta sebagai masukan untuk proses selanjutnya.

Pada Sesi Kerja ini, turut disampaikan kembali mengenai Perjalanan Jakarta Berketahanan di Tahap I, terlaksana sejak Mei 2016 hingga Februari 2018, yang menghasilkan keluaran berupa terumuskannya Penilaian Awal Ketahanan/Preliminary Resilience Assessment (PRA). Seluruh rangkaian proses ini dilaksanakan melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan para pemangku kepentingan secara partisipatif.

Sesi Kerja ini juga dilakukan untuk mendalami dan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan tentang tantangan yang dihadapi Kota Jakarta. Sesi Kerja ini terbagi ke dalam 3 (tiga) tahapan berupa: (i) Penyelarasan dan Validasi Pertanyaan Analisis Setiap Fokus Utama Jakarta Berketahanan; (ii) Penyelarasan dan Validasi Setiap Fokus Utama Jakarta Berketahanan ke dalam Kerangka Ketahanan Kota/City Resilience Framework (CRF); dan (iii) Penetapan Status Ketahanan Kota (resilience statement) dengan hasil dari tahapan-tahapan sebelumnya.

Kerangka Ketahanan Kota/City Resilience Framework sebagai acuan dalam Analisis Ketahanan Kota

Pada Sesi Kerja ini, ditemukenali bahwa masih terdapat beberapa pertanyaan analisis yang dianggap tidak sesuai dengan fokus utama. Pertanyaan analisis tersebut kemudian disusun kembali oleh para pemangku kepentingan.

Ringkasnya, terdapat beberapa perubahan bagi pertanyaan analisis di setiap Fokus Utama Jakarta Berketahanan, yaitu:

  1. Fokus Utama 1 (Meningkatkan kapasitas tata kelola pemerintahan dan manajemen kota). Mengingat bahwa permasalahan tata kelola pemerintahan masih bersifat birokratis, sektoral, dan tidak inklusif, maka pertanyaan analisis disempurnakan dengan poin-poin sebagai berikut:
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk meningkatkan proses tata kelola pemerintahan.
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk meningkatkan monitoring dan evaluasi tata kelola pemerintahan.
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk meningkatkan koordinasi tata kelola pemerintahan lintas wilayah.
  2. Fokus Utama 2 (Mengembangkan budaya siap siaga untuk menghadapi berbagai guncangan). Mengingat bahwa permasalahan kesiapsiagaan bencana berupa rendahnya kesadaran masyarakat dan minimnya akses terhadap informasi, maka pertanyaan analisis disempurnakan dengan poin-poin sebagai berikut:
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk meningkatkan pendidikan mengenai kesiapsiagaan bencana sejak dini.
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk meningkatkan akses terhadap informasi
  3. Fokus Utama 3 (Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui tata kelola air bersih, air limbah, dan sampah). Mengingat bahwa permasalahan tata kelola air bersih, air limbah, dan sampah berupa belum terintegrasinya berbagai upaya, maka pertanyaan analisis disempurnakan dengan poin-poin sebagai berikut:
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk melihat aspek yang lebih luas mengenai upaya peningkatan kualitas air.
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk melihat solusi alternatif isu persampahan lintas wilayah.
  4. Fokus Utama 4 (Meningkatkan kualitas mobilitas dan konektivitas warga Jakarta). Mengingat bahwa permasalahan mobilitas dan konektivitas berupa banyaknya penggunaan kendaraan pribadi dan jumlah perjalanan yang dilakukan oleh penduduk, maka pertanyaan analisis disempurnakan dengan poin-poin sebagai berikut:
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk menemukenali aspek yang dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk menemukenali aspek yang dapat mengurangi jumlah perjalanan penduduk.
  5. Fokus Utama 5 (Memelihara kohesi sosial warga Jakarta). Mengingat bahwa permasalahan kohesi sosial berupa tingginya tingkat urbanisasi dan kolaborasi antarpemerintah daerah, maka pertanyaan analisis disempurnakan dengan poin-poin sebagai berikut:
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk meningkatkan akses pendatang kepada pelatihan untuk menigkatkan kapasitas pendatang.
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk meningkatkan kolaborasi
    • Pertanyaan analisis ditekankan untuk menimbulkan motivasi kepada pendatang untuk kembali ke daerah asal mereka.
Sesi Kerja Tahap II Jakarta Berketahanan – Status Ketahanan Kota (Resilience Statement)

Berikut Paparan Sekretariat Jakarta Berketahanan pada Kegiatan┬áSesi Kerja Tahap II Program Jakarta Berketahanan – Status Ketahanan Kota Jakarta (Resilience Statement) – 23 Agustus 2018

Link: 20180823_Sesi Kerja_Resilience Statement

Show More

Related Articles