Jakarta BerketahananKegiatanLingkungan HidupTata Ruang

Rapat Persiapan Lokakarya (Workshop) City Assets, Shocks, and Stresses Assessment untuk Mewujudkan Jakarta Sebagai Kota Berketahanan (Resilient City)

20170918_103237

Jakarta, 18 September 2017.

Kedeputian Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup mengadakan rapat persiapan untuk Pelaksanaan Lokakarya (Workshop) City Assets, Shocks, and Stresses Assessment untuk Mewujudkan Jakarta Sebagai Kota Berketahanan (Resilient City).

Tujuan rapat persiapan adalah untuk memberikan pembekalan materi kepada para para peserta lokakarya yang akan diadakan pada 20 September 2017 mendatang.

Pada pertemuan ini, beberapa hal yang akan dibahas adalah tentang (i) penjelasan mengenai 100 Resilient Cities, (ii) penjelasan terkait Konsep Kota Berketahanan beserta indikatornya, (iii) rangkaian kegiatan lokakarya, dan (iv) peran peserta dalam lokakarya tersebut.

20170918_103323

Pada awal pertemuan, Pihak Sekretariat Resilient Jakarta menjelaskan bahwa DKI Jakarta telah bergabung dengan Program dan Jaringan 100 Resilient Cities (100RC) pada Mei 2016 yang bertujuan membantu kota-kota di dunia untuk menjadi kota berketahanan. Dalam hal ini, proses 100RC untuk membantu DKI Jakarta menuju kota berketahanan yang akan terbagi pada 3 (tiga) tahap, yaitu:

  1. Tahap 1 (satu) yang akan menghasilkan (i) Preliminary Resilience Assessment (PRA) kota DKI Jakarta yang akan menceritakan tentang kondisi ketahanan DKI Jakarta saat ini serta (ii) Discovery Area yang merupakan permasalahan utama dan penyelesaiannya akan menjadi prioritas utama dalam penyusunan strategi ketahanan DKI Jakarta. Proses pengerjaan tahap 1 (satu) akan melingkupi pengambilan data terkait: (i) Persepsi Penduduk DKI Jakarta terkait kondisi kota, (ii) Rencana kerja kota dalam menghadapi segala permasalahanya, (iii) Aset-aset penting yang dimiliki oleh DKI Jakarta, dan (iv) Skenario kondisi kota di masa depan. Tahap 1 (satu) ini direncanakan akan selesai dalam kurun waktu 2-3 bulan.
  2. Tahap 2 (dua) akan menghasilkan strategi ketahanan kota (Resilience Strategy) yang didapatkan melalui penelaahan discovery area yang telah ditemukan pada tahap 1 (satu). Tahap 2 (dua) ini akan selesai dalam kurun waktu 4-6 bulan.
  3. Tahap 3 (tiga) merupakan tahap pembentukan institusi ketahanan kota di dalam DKI Jakarta beserta implementasi strategi ketahanan kota yang telah disusun. Tahap 3 (tiga) direncanakan akan selesai dalam kurun waktu 1 (satu) tahun.

Dalam rapat ini, pihak AECOM menjelaskan tentang konsep kota berketahanan. Beberapa hal penting yang disampaikan berupa:

  1. Kota berketahanan merupakan kota yang mampu menghadapi dan bangkit dari segala tantangan (baik dalam bentuk guncangan, shocks, yang terjadi tiba-tiba seperti: bencana, wabah, dsb.; maupun dalam bentuk tekanan, stresses, yang menghambat perkembangan kota dalam kegiatan sehari-hari seperti: kemacetan, kemiskinan, pemerintahan yang buruk, dsb.) yang telah dan/atau akan menimpanya.
  2. Lokakarya ini bertujuan untuk melakukan konfirmasi terhadap penilaian terhadap kerentanan aset kota terhadap potensi guncangan (shocks) di DKI Jakarta yang sebelumnya telah dilakukan dalam working session bersama Bappeda Provinsi DKI Jakarta.

Dalam pertemuan ini, dijelaskan pula tentang peran peserta dalam lokakarya, yaitu:

  1. Memberi masukan terhadap kondisi aset DKI Jakarta sesuai dengan kelompok dan kategori yang diwakili.
  2. Menentukan kerentanan aset terhadap guncangan (shocks) sehingga penyusunan PRA bisa lebih komprehensif.
  3. Menjadi agen resilient sehingga dapat membantu mewujudkan Jakarta sebagai Kota Berketahanan.
Show More

Related Articles